Pariwisata Kota Tua, Tanjung Pinang


Sebuah kota tua. Itu gambaran yang akan kamu dapati ketika menginjakkan kaki di negeri gurindam ini untuk kali pertama. Kota ini jugalah yang menjadi ibu kota Kepri. Jejeran toko berarsitektur zaman dulu akan kamu temui di sisi-sisi jalan menuju pusat kota. Kamu akan senang berkeliling Tanjung pinang karena kotanya tenang dan nyaman. Dua kata ini jugalah yang turut memperkenalkan Tanjung pinang ke dunia luar.

Tanjung pinang memiliki pesona menarik dengan beragam budaya dan suku bangsa. Hampir semua suku bangsa dari seluruh Indonesia ada di sini. Bahasa Melayu di kota ini tergolong klasik dan sedikit unik terdengar di telinga orang-orang dari luar kota. Selain itu, Tanjung pinang memiliki cukup banyak area wisata, di antaranya Pulau Penyengat yang hanya berjarak kurang lebih 1 mil atau sekitar 1,6 km dari pelabuhan laut Tanjung pinang dan hutan bakau Sungai Dompak.

Tanjung pinang terdiri atas empat kecamatan, yaitu Tanjung pinang Kota, Tanjung pinang Barat, Bukit Bestari, dan Tanjung pinang Timur.

Letaknya yang sangat strategis membuat kota ini mudah dicapai baik oleh wisatawan domestik maupun wistawan asing dengan menggunakan transportasi laut ataupun udara. Untuk menghubungkan gugusan pulau dapat menggunakan kapal perintis atau kapal PELNI dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Kota Tanjung pinang atau Pelabuhan Sribayintan di Kijang, Bintan Timur. Selain itu, juga terdapat feri yang berangkat ke Batam dan daerah lainnya. Pelabuhan laut Tanjung pinang memiliki beberapa jenis kapal feri danspeedboat untuk akses domestik ke pulau Batam dan kota-kota lain di Riau daratan, Kepulauan Karimun, dan Kundur, serta akses internasional ke negara Malaysia dan Singapura.

Kebanyakan pengguna Pelabuhan Sri Bintan Pura berasal dari Telaga Punggur, Batam. Kapal roro dari Batam ke Tanjung pinang dipatok dengan tarif sekitar Rp15 ribu (dewasa) yang berangkat dari jam 10.00-16.00 dan kapal feri dipatok dengan tarif sekitar Rp. 45 ribu yang berangkat dari pukul 07.30-18.00.

Sama seperti banyak pelabuhan di Indonesia, kamu mungkin juga akan menemukan para supir taksi dan tukang ojek yang berjubel di depan pintu keluar pelabuhan. Tidak hanya di luar, bahkan ada yang memasuki wilayah pelabuhan untuk sekadar mengatakan, “Ojek, Bang?” atau “Taksi, Mbak?”

Sedangkan untuk pintu masuk jalur udara, Tanjung pinang mengandalkan Bandara Raja Haji Fisabilillah yang terus direnovasi. Bandara ini terletak sekitar 10 km di sebelah timur pusat Tanjung pinang. Saat ini, ada dua maskapai yang masuk ke bandara ini, yaitu Riau Arlines (RAL) dan Sriwijaya Air. Jika kamu terbang dengan RAL dari Pekanbaru atau Dumai kamu harus ekstra hati-hati dan harus memastikan penerbangan kamu. Kenapa? Karena biasanya RAL akan membatalkan penerbangan jika kuota penerbangannya tidak cukup.

Jadi, jika kamu ingin ke Tanjung pinang dari Pekanbaru, sebaiknya memilih penerbangan ke Batam. Dari Batam kamu dapat menaiki feri dari Telaga Punggur Batam menuju Tanjung pinang. Sedangkan jadwal penerbangan dari Jakarta ke Tanjung pinang dengan Sriwijaya Air sebanyak dua kali, yaitu pada pukul 14.30 dan 17.40 setiap hari.

Tanjung pinang memiliki alternatif angkutan perkotaan yang sangat memadai seperti transport (kalau di Jakarta disebut mikrolet), ojek motor, dan taksi. Tarif transport di Tanjung pinang seragam, yaitu jauh dekat Rp3 ribu. Sedangkan tarif taksi sesuai dengan kesepakatan setelah proses tawar-menawar, namun biasanya tarif normal terendah Rp50 ribu. Tapi jika ingin praktis, kamu dapat menyewa mobil maupun taksi. Penyewaan mobil berkisar dari Rp250 ribu-Rp500 ribu, sedangkan sewa taksi per hari antara Rp175 ribu-Rp300 ribu. Sementara untuk menuju pulau-pulau yang berdekatan, kamu dapat menggunakan perahu kecil yang disebut pompong. Biayanya berkisar dari Rp5 ribu hingga Rp50 ribu.

Pulau Penyengat
Pulau Penyengat adalah sebuah pulau kecil yang letaknya di sebelah barat Tanjung pinang, sekitar 1,6 km dari Pelabuhan Sri Bintan Pura. Akses menuju pulau ini dapat menggunakan pompong. Tarif sekali jalan ke pulau ini sekitar Rp5 ribu per orang dengan waktu kira-kira 5 menit. Di atas pompong kamu akan merasakan angin laut yang begitu sepoi-sepoi dan ombak laut yang turut membuat perjalanan ke Pulau Penyengat semakin menantang.

Di Pulau Penyengat, kamu akan langsung melihat Masjid Raya Sultan Riau. Masjid ini dibangun pada tahun 1832 pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rahman. Pembangunan masjid ini dilakukan secara bergotong-royong oleh semua masyarakat Penyengat.

Aspek yang paling menarik dari pembangunan masjid ini yaitu digunakannya putih telur sebagai campuran semen untuk membangung dinding masjid. Masjid ini merupakan bangunan yang unik dengan panjang 19,8 m dan lebar 18 m. Ruang tempat shalat disangga oleh empat tiang besar. Atapnya berbentuk kubah sebanyak 13 buah dan menara sebanyak empat buah, semuanya berjumlah 17 sesuai rakaat salat sehari semalam. Di dalam masjid ini kamu juga akan menemukan kitab suci Al-Quran yang ditulis tangan, serta lemari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga yang pintunya berukir kaligrafi yang melambangkan kebudayaan Islam sangat berkembang pada masa itu.

Di pulau kecil ini juga terdapat kompleks makam raja-raja. Di antaranya kompleks makam Engku Putri Raja Hamidah yang juga terdapat makam Raja All Haji sang sastrawan kenamaan di zamannya dengan karyanya yang terkenal yaitu Gurindam Dua Belas kompleks makam Raja Jalar, dan kompleks makam Raja Haji Fisabilillah. Untuk masuk ke dalam kompleks makam kamu tidak dikenakan biaya alias gratis. Tapi kamu harus ingat, ketika memasuki kompleks makam, kamu harus melepaskan alas kaki.

Setelah puas melihat bangunan masjid dan mengelilingi komplek makam, kamu dapat menikmati pemandangan laut lepas di atas bukit pulau ini. Bukit itu dinamakan Bukit Kursi. Benteng Kursi dibangun pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah yang pada saat itu menjadikan Pulau Penyengat sebagai benteng pertahanan yang ampuh di masa Perang Riau. Di benteng ini kamu akan menjumpai peninggalan berupa parit pertahanan dan meriamnya.

Pulau Penyengat juga memiliki pemandangan alam yang indah, baik di pantai maupun di bukit-bukit. Kamu juga bisa menyaksikan perkampungan tradisional penduduk, Balai Adat, dan atraksi kesenian.

Untuk mengelilingi keseluruhan Pulau Penyengat, kamu dapat menyewa becak motor dengan harga Rp20 ribu per becak.

Senggarang

Senggarang merupakan sebuah daerah yang berhadapan dengan pusat kota Tanjung pinang. Untuk mencapai daerah ini, kamu dapat menggunakan transportasi lokal dari pelabuhan penyeberangan Pelantar I yang terletak di dekat Pasar Ikan atau sekitar 15 menit lewat jalur laut dari Pelantar II dekat Pasar Ikan Tanjungpinang. Kamu bisa mencapai daerah ini dengan menumpang pompong yang berbiaya Rp3 ribu per orang. Selain kuil-kuil itu, juga terdapat patung-patung Budha di sekitar Senggarang.

Pusat Kota

Pusat kota Tanjung pinang tidaklah terlalu besar, sehingga kamu bisa berkeliling melihat-lihat kota ini. Dengan naik transport, kamu bisa mengelilingi seluruh pusat kota. Cukup hanya membayar Rp3 ribu, sopir transport siap mengantar kamu mengelilingi pusat kota Tanjung pinang. Mulai dari tepi laut, Pasar Ikan,Gedung Residen, Monumen Perjuangan Raja Haji Fisabilillah, Taman Rekreasi Hanaria, Mesjid Keling (Al Hikmah), Gereja Bethel, Kerkhoff (Kuburan) Belanda, Tugu Proklamasi, Tugu Pensil, Tugu Pahlawan, hingga Makam Datuk Ledang.

Sungai UlarEits tunggu dulu! Kamu jangan langsung mengira bahwa di sungai ini banyak ular. Namanya saja Sungai Ular, tapi sebenarnya nama itu hanya menggambarkan bentuk sungai yang berliku-liku mirip ular Sungai ini terletak berseberangan dengan pusat kota Tanjung pinang.

Sungai yang berliku-liku ini banyak ditumbuhi pohon-pohon bakau. Di hulu sungai terdapat kuil Budha yang berumur 300 tahun. Pada dinding kuil ini terdapat lukisan lama yang menggambarkan kehidupan neraka bagi orang-orang yang tidak berbudi luhur dalam hidupnya.

Untuk mencapai lokasi itu, kamu dapat menggunakan jasa pompong dengan biaya Rp50 ribu per orang (PP) dari pelabuhan rakyat Pelantar II dengan jarak tempuh sekitar 15 menit.

Tempat Belanja Tanjung Pinang

Berbelanja di Tanjung pinang tak ubahnya ibarat belanja di kota tua. Tidak salah memang, karena Tanjung pinang memang lebih dikenal sebagai kota tua. Tempat perbelanjaan di Tanjung pinang tidak seperti Batam yang banyak mal, tetapi lebih tradisional. Barang-barang harian di sini jauh lebih mahal dari Batam, begitu juga alat-alat elektronik. Makanya disarankan kamu tidak banyak berbelanja di kota ini.

Namun, kamu sangat disarankan berbelanja ikan-ikan kering, karena di sini ikan-ikan kering itu melimpah dan masih baru, jauh dari yang namanya formalin. Ikan teri menjadi andalan kota ini untuk diperdagangkan, bahkan diekspor ke negeri tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Maka tak salah jika pasarnya saja dikenal dengan sebutan Pasar Ikan. Selain itu, kamu bisa juga mengunjungi pasar tradisional Bintan Center.

sumber

One thought on “Pariwisata Kota Tua, Tanjung Pinang

  1. With their easy meal guides, the pressure of planning your dinner becomes a thing of the past.

    What. While working with these edible sheets make sure to complete
    doing the printing job in advance and then store
    them in a zip-loc bag.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s